Minggu, 20 Juni 2010
”I finally found the love, of a lifetime/ A love to last my whole life through…
Itu lagu penggalan refrein lagu ”Love of A Lifetime” yang dibawakan band Firehouse, Rabu (16/6) malam di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta. Lagu itu populer pada awal era 1990-an.
Dan serasa masa itu baru terjadi kemarin. Malam sebelum ujian, buku-buku pelajaran SMA berserakan di meja belajar. Namun, pikiran tak terpusat pada isi buku, melainkan melayang jauh ke wajah sang pujaan hati sembari terdengar sayatan gitar mengiringi syair ”Love of A Lifetime”.
Tanpa disadari, hampir dua puluh tahun telah berlalu sejak itu, saat lagu itu pertama kali dirilis dan menjadi hit dunia. Hidup berlalu, tempat berganti. Namun, pesona lagu itu dan kenangan yang melekat ternyata tak lekang oleh waktu. Masih menghanyutkan….
Firehouse band pengusung glam rock asal Charlotte, North Carolia, AS, itu didatangkan lagi ke Indonesia oleh promotor Tommy Pratama dari Original Production. Setelah dari Jakarta, mereka juga tampil di Makassar (17/6), Surabaya (22/6), Bandung (24/6), Semarang (26/6), Bali (27/6), dan Singapura (30/6).
Ini bukan penampilan pertama Firehouse di Indonesia. Awal 1997, grup yang pernah malang melintang pada awal 1990-an dan meraih predikat band hard rock/metal pendatang baru terbaik di ajang American Music Awards 1991 ini pernah melakukan tur sukses di beberapa kota di Tanah Air.
Popularitas mereka mulai menyurut, seperti juga band-band pengusung heavy metal dan glam rock lainnya, seiring dengan dimulainya Revolusi Grunge akhir 1990-an. Namun, lagu-lagu hit Firehouse yang ditelurkan selama era puncak popularitas mereka masih digemari orang.
Balada dan kenangan
Firehouse tampil dengan formasi terakhirnya, yang meliputi dua pendiri band ini, yakni vokalis CJ Snare dan penabuh drum Michael Foster. Allen McKenzie menjadi pemain bas resmi Firehouse sejak 2004. Satu lagi anggota asli band ini, yakni gitaris Bill Leverty, absen dan sebagai gantinya tampil gitaris Neil Zaza.
Foster dan McKenzie masih tampil ala bintang rock 1980-an, dengan kaus hitam dan rambut gondrong terurai. Namun, Snare dan Zaza berpotongan rambut pendek rapi, mengenakan celana denim, dan kemeja lengan pendek (Snare) serta t-shirt lengan pendek hitam (Zaza).
Firehouse membuka penampilan dengan lagu ”Love is A Dangerous Thing” dari album 3 (1995). Lagu ini tidak terlalu memicu aplus penonton karena memang tidak terlalu populer di sini. Penonton, yang hanya memenuhi sekitar sepertiga arena festival di depan panggung dan separuh kursi tribun, masih adem-adem saja.
Namun, begitu Snare mulai menyanyikan intro lagu ”All She Wrote” sebagai lagu kedua, penonton mulai bersorak-sorak bergembira. Sorak-sorak semakin merdeka ketika Snare membawakan lagu keempat ”When I Look Into Your Eyes”, salah satu hit balada yang dirilis pada 1992. ”Mereka tampil keren banget, bener-bener ngobatin kangen,” ujar Arya (26), warga Salemba, Jakarta Pusat, yang malam itu tampak mesra dengan pasangannya setiap lagu-lagu balada Firehouse dimainkan.
Dengan nomor-nomor balada dan melodi yang mendayu-dayu, lirik romantis, dan sayatan gitar yang menghanyutkan itulah, Firehouse diterima di kawasan Asia. Paling tidak ada tiga lagi hit balada mereka yang mendapat aplus supermeriah malam itu, yakni ”Here For You”, ”Love of A Lifetime”, dan tentu saja ”I Live My Life For You”, yang menjadi encore konser malam itu.
”..I live my life for you//I want to be by your side//in everything that you do..”. Ah, nostalgia memang selalu indah….
(DAHONO FITRIANTO)